Dolar Dapat Angin Segar Jelang Rapat Fed, Rupiah Ditutup Melemah

Rupiah melemah (Sumber : www.msn.com)

JAKARTA – Rupiah tetap terbenam di zona merah pada perdagangan Senin (12/12) sore setelah mendapatkan angin segar saat investor mencermati data ekonomi AS terbaru menjelang rapat kebijakan Federal Reserve. Menurut laporan Bloomberg Index pukul 14.59 WIB, mata uang Garuda ditutup melemah 44,5 poin atau 0,29% ke level Rp15.627,5 per dolar AS.

Bacaan Lainnya

Sementara itu, mayoritas mata uang di Benua Asia juga tidak berdaya menghadapi greenback. Won Korea Selatan menjadi yang paling terpuruk setelah melorot 0,82%, diikuti yang terkoreksi 0,37%, yuan China yang turun 0,37%, dolar Taiwan yang melemah 0,31%, peso Filipina yang berkurang 0,30%, yen Jepang yang 0,23%, dan baht Thailand yang minus 0,22%.

“Awal pekan ini rupiah mungkin masih berpeluang melemah terhadap dolar AS karena pasar menunggu data dan event penting, yakni data inflasi AS bulan November 2022 dan pengumuman kebijakan suku bunga The Fed,” papar pengamat pasar uang, Ariston Tjendra, dikutip dari Antara. “Data inflasi AS yang akan diumumkan Selasa (13/12) malam akan memberikan petunjuk kemungkinan kebijakan yang dirilis The Fed pada Kamis (15/12) dini hari WIB.”

Dari pasar global, indeks dolar AS bergerak lebih tinggi pada hari Senin setelah data menunjukkan harga produsen di AS pada November 2022 naik lebih dari yang diperkirakan, menunjukkan tekanan inflasi yang terus-menerus dan memicu kekhawatiran bahwa Federal Reserve perlu mempertahankan suku bunga lebih tinggi lebih lama. Mata uang Paman Sam terpantau menguat 0,173 poin atau 0,17% ke level 104,983 pada pukul 14.52 WIB.

Dilansir dari Reuters, indeks harga produsen AS untuk permintaan akhir dilaporkan naik 0,3% pada bulan November 2022 dan 7,4% secara tahunan, sedikit di atas perkiraan ekonom, dengan kenaikan masing-masing 0,2% dan 7,2%. juga tetap waspada menjelang peristiwa utama minggu ini, termasuk serangkaian pertemuan bank sentral utama.

“Ada sedikit kekhawatiran tentang bagaimana inflasi akan terus-menerus tinggi dan akan mendorong The Fed untuk mempertahankan kebijakan pada tingkat yang lebih ketat dari perkiraan sebelumnya,” kata strategi mata uang di Commonwealth Bank of Australia, Carol Kong. “Jika Jerome Powell (Ketua The Fed) berbicara lebih banyak tentang risiko terhadap ekonomi, saya pikir itu mungkin akan dianggap dovish oleh pasar.”

Pos terkait