Dolar Bangkit, Rupiah Berbalik Melemah pada Selasa Pagi

  • Whatsapp
Rupiah melemah pada perdagangan Selasa (12/10) pagi - balinesia.id

JAKARTA – Rupiah harus berbalik ke zona merah pada perdagangan Selasa (12/10) pagi, terpukul kebangkitan greenback. Menurut data Bloomberg Index pukul 09.02 WIB, mata uang Garuda melemah tipis 5 poin atau 0,04% ke level Rp14.212,5 per dolar AS. Sebelumnya, spot berakhir 15 poin atau 0,11% di posisi Rp14.207,5 per dolar AS pada transaksi hari Senin (11/10).

“Penguatan rupiah kemarin tidak terlepas dari rilis data nonfarm payroll AS yang ternyata tidak setinggi ekspektasi pelaku pasar. Sekalipun tingkat pengangguran turun, penambahan lapangan pekerjaan belum tumbuh berbanding lurus,” papar ekonom Bank Mandiri, Reny Eka Putri, dilansir dari Kontan. “Ini membuat ekspektasi pasar terhadap pemulihan ekonomi AS mengendor. Alhasil, rupiah diuntungkan dengan kondisi saat ini.”

Bacaan Lainnya

Reny melanjutkan, sentimen tersebut akan membuat rupiah berpotensi melanjutkan penguatan pada perdagangan hari Selasa. Apalagi dari dalam negeri, pasar akan mengantisipasi data neraca perdagangan Indonesia untuk bulan September. “Data tersebut masih akan kembali surplus dan melanjutkan tren positif pada bulan sebelumnya,” imbuh Reny.

Berbanding terbalik, analis Monex Investindo Futures, Faisyal, mengatakan bahwa pelemahan dolar AS akibat data nonfarm payroll yang mengecewakan diprediksi hanya bersifat sementara. Ia memperkirakan pada transaksi hari ini, rupiah justru berpotensi melemah. Pasalnya, meskipun data nonfarm payroll di bawah perkiraan, itu tidak akan menggoyahkan pandangan The Fed.

“Berdasarkan analisis secara global, diyakini Federal Reserve masih tetap akan memulai tapering pada bulan November mendatang walau nonfarm payroll kemarin hasilnya kurang baik,” ujar Faisyal. “Hal ini akan membuat dolar AS kembali berbalik dan rupiah pun berpotensi melemah di kisaran Rp14.170 hingga Rp14.240 per dolar AS.”

Sementara itu, menurut laporan Bloomberg, mata uang Garuda bisa menjadi mata uang dengan kinerja terbaik di Asia sepanjang sisa tahun 2021 ini. Kinerja baik tersebut dipicu harga komoditas yang mendorong surplus perdagangan negara. Dengan cadangan devisa negara yang mencetak rekor tertinggi, Bank Indonesia punya banyak amunisi untuk mendukung rupiah jika imbal hasil AS meningkat lebih lanjut dalam beberapa bulan mendatang.

“Kami memiliki pandangan positif pada rupiah dan mengharapkannya untuk tetap menjadi salah satu mata uang yang berkinerja terbaik di seluruh pasar berkembang Asia berdasarkan total pengembalian kuartal IV 2021,” urai kepala penelitian FX Asean dan Asia Selatan di Standard Chartered Bank, Divya Devesh. “Indonesia berada dalam posisi yang lebih baik daripada sebelum taper tantrum 2013, dengan surplus neraca transaksi berjalan gabungan sebesar 13 miliar dolar AS dalam empat kuartal terakhir.”

Pos terkait