Demo di China Bikin Aset Aman Laris, Rupiah Berakhir Melemah

Rupiah melemah (Sumber : bisnisindonesia.id)

JAKARTA – Rupiah harus menutup perdagangan Senin (28/11) sore di teritori merah ketika protes di China terkait pembatasan Covid-19 membuat investor beralih ke aset yang lebih aman sehingga menguatkan dolar AS. Menurut laporan Bloomberg Index pukul 14.59 WIB, mata uang Garuda berakhir melemah 49,5 poin atau 0,32% ke level Rp15.722 per dolar AS.

Mayoritas mata uang di kawasan Benua Asia juga terpantau tidak berdaya menghadapi greenback. Nasib won menjadi yang paling tragis setelah anjlok 1,14%, diikuti China yang terkoreksi 0,91%, baht Thailand yang melemah 0,86%, peso Filipina yang berkurang 0,33%, dolar Hong Kong yang terkoreksi 0,17%, dan India yang turun 0,07%. Sebaliknya, yen Jepang masih mampu menguat 0,26%.

Bacaan Lainnya

“Rupiah akan bergerak melemah pada hari ini, mengikuti sentimen negatif pasar terhadap aset berisiko yang dipicu meluasnya demonstrasi di China karena pembatasan pergerakan akibat Covid-19,” terang analis PT Sinarmas Futures, Ariston Tjendra, pagi tadi seperti dikutip dari CNN Indonesia. “Sentimen negatif ini mendorong penguatan sebagai aset aman.”

memang terpantau bergerak lebih tinggi pada hari Senin, seiring protes terhadap pembatasan Covid-19 di China yang mengguncang pasar keuangan, mengirim jatuh dan mendorong investor yang gugup untuk beralih ke aset yang lebih aman. Mata uang Paman Sam menguat cukup tajam, 0,435 poin atau 0,41% ke level 106,394 pada pukul 10.34 WIB.

Aksi memprotes lockdown ketat virus corona yang pecah di Negeri Panda telah meluas hingga ke Beijing, Chengdu, Guangzhou, dan Wuhan. Para pendemo tidak cuma menyerukan pencabutan pembatasan, tetapi juga menuntut kebebasan berpolitik. Bahkan, ada seruan agar Presiden mundur dari jabatannya. Ratusan demonstran di Shanghai juga dikabarkan terlibat bentrok dengan polisi pada Minggu (27/11) malam.

“Tekanan balik dari warga yang telah kita lihat, jelas meningkatnya ketegangan dan protes, dan itu adalah sesuatu yang mungkin tidak kita duga pada tingkat tersebut,” kata kepala penelitian di Pepperstone, Chris Weston, dilansir dari Reuters. “Kita benar-benar melihat respons pemerintah terhadap apa yang terjadi, dan respons mereka sangat tidak terduga, dan tentu saja itu berarti meremehkan.”

Pembatasan yang ketat terkait Covid-19 telah berdampak besar pada ekonomi China, dan pihak berwenang berusaha menerapkan berbagai langkah untuk menghidupkan kembali pertumbuhan. Pada hari Jumat (25/11) kemarin, People’s Bank of China, bank sentral negara itu, mengatakan akan memangkas rasio persyaratan cadangan (RRR) untuk bank sebesar 25 basis poin, efektif mulai 5 Desember 2022.

Pos terkait