Gelombang Empat COVID-19 Menghantam Eropa, Jerman Enggan Tutup Sekolah

  • Whatsapp
Aktivitas siswa SD bersama guru
Aktivitas siswa SD bersama guru

Jerman – Lebih dari seminggu, anak-anak dan remaja di Jerman terpukul dengan gelombang keempat COVID-19. Meskipun banyak dari mereka yang terpapar Coronavirus, tidak membuat pemerintah berinisiasi untuk menutup sekolah, dengan alasan konsekuensi psikososial negatif bagi anak dan remaja.

Dilansir dari Deutsche Welle, menurut Robert Koch Institute (RKI), otoritas kesehatan masyarakat Jerman, tingkat kejadian COVID-19 gelombang empat selama tujuh hari tertinggi (19/11), terjadi pada anak-anak berusia 10 hingga 14 tahun. Selanjutnya diikuti oleh kelompok usia 5-9 tahun dan kelompok usia 15-19 tahun.

Bacaan Lainnya

“Ini berarti, anak-anak yang saat ini masih sangat terpengaruh,” kata pihak RKI. “Sudah ada 856 kasus wabah di selama empat minggu terakhir dan jumlahnya lebih tinggi dari semua gelombang pandemi sebelumnya.”

Faktor yang mempengaruhi peningkatan pasien Coronavirus di kalangan anak-anak Jerman adalah transmisi varian delta yang lebih mudah dan cepat. Selain itu, banyak anak yang duduk di bangku belum diizinkan vaksin.

Di Jerman, vaksinasi COVID-19 hanya diperbolehkan untuk anak dari usia 12 tahun. Dengan adanya kasus COVID-19 varian delta, pemerintah sedang mengupayakan produk untuk anak di bawah 12 tahun, tetapi belum ada kepastian tanggalnya dan diskusi mengenai ini masih berlangsung.

Meskipun jumlah pasien pandemi COVID-19 kian membludak, para politisi Jerman ingin menghindari upaya penutupan sekolah. Apa yang politisi ingin hindari adalah menutup sekolah. Sejumlah penelitian telah menunjukkan bahwa konsekuensi psikososial dari penutupan yang meluas terlalu negatif. Hal ini karena, jika sekolah ditutup, anak-anak tidak bisa belajar berinteraksi sosial dengan baik.

Parlemen Jerman telah mengesahkan peraturan COVID yang baru. Di bawah undang-undang baru, penutupan secara luas tidak akan diizinkan lagi. Selama debat Bundestag tentang RUU baru, pemimpin parlemen Partai Greens Katrin Göring-Eckardt berjanji bahwa mulai sekarang, setiap RUU baru yang dimaksudkan untuk mengekang pandemi atau menangani akibatnya akan diperiksa untuk melihat bagaimana kebutuhan anak-anak dan remaja, termasuk kebutuhan mereka akan sekolah normal.

Sementara RUU sudah ditetapkan, beberapa masih harus ditutup karena terlalu berbahaya. Di Saxony, misalnya, ini adalah tempat yang memiliki kasus COVID-19 masih tinggi. Karena terlalu berbahaya untuk berinteraksi sosial, Kementerian Pendidikan Saxony saat ini mencantumkan 129 sekolah yang berada di bawah pembatasan sementara, alias ditutup.

Tidak ada angka nasional di Jerman tentang jumlah penderita COVID-19 di kalangan anak sekolah. Namun, menurut Konferensi Menteri Pendidikan Jerman, 45.500 anak usia terdaftar terinfeksi dan 87.000 dari 10 juta berada di karantina. Pada pekan sebelumnya, terdapat 23.000 kasus COVID-19 pada anak sekolah dan 54.000 kasus karantina.

Kota Cottbus, dengan 100.000 penduduk, terletak di Brandenburg selatan, negara bagian di sekitar Berlin adalah hotspot COVID-19 lainnya di Jerman, tetapi situasinya belum sedramatis di negara tetangga Saxony.

“Untungnya, belum ada yang ditutup sepenuhnya,” kata juru bicara kota Jan Glossmann. “Sekitar 30 sekolah, pusat penitipan anak atau pusat penitipan setelah sekolah saat ini terkena dampaknya, tapi itu hanya kasus yang terisolasi sejauh ini.”

Sebuah dari Dresden University of Technology telah menunjukkan bahwa anak-anak juga lebih menderita akibat jangka panjang dari COVID-19 daripada yang diperkirakan sebelumnya. Menjaga tetap terbuka berarti banyak pekerjaan bagi pemerintah kota. Karena sekolah adalah wajib di Jerman, negara harus memastikan hak dasar untuk pendidikan dan integritas fisik individu. [lmas/dw]

Pos terkait