Insinyur China Tuding Satelit Starlink Langgar Jarak Orbit, Desak Beijing Mengikutinya

Satelit Starlink Langgar Jarak Orbit - (web.astrolab.cn)
Satelit Starlink Langgar Jarak Orbit - (web.astrolab.cn)

BEIJING – Sebuah tim insinyur luar angkasa China menuduh satelit SpaceX, Starlink, telah melanggar lalu lintas orbit bawah Bumi karena mengabaikan aturan 10 km yang tidak tertulis tetapi telah diterima secara umum. Mereka lantas mendesak otoritas China untuk mengikutinya dan mengembangkan batas keamanannya sendiri atau berisiko memberi AS keunggulan.

Seperti diwartakan South China Morning Post, para peneliti mengatakan, dua satelit terbaru Starlink, yang dilengkapi dengan perangkat komunikasi laser berkecepatan tinggi, berada dalam 4,9 km (3 mil) satu sama lain pada 30 Juni lalu. Sementara itu, jarak minimum yang diterima secara umum, jika tidak tertulis, untuk menghindari tabrakan adalah 10 km (6,2 mil).

Bacaan Lainnya

Dalam sebuah penelitian yang diterbitkan oleh jurnal peer-review China Radio Engineering, para peneliti menyebutkan, formasi padat yang tidak biasa itu bukanlah kebetulan, tetapi hasil dari skema kompleks oleh SpaceX untuk memaksimalkan kinerja komunikasi laser mereka. Teknologi ini membutuhkan perangkat pengirim dan penerima untuk tetap berada dalam garis pandang lurus pada tertentu. Ini juga bukan satu-satunya contoh satelit Starlink yang mengabaikan lalu lintas.

Yu Shunjing, seorang insinyur desain satelit DFH Satellite Co., dan rekan penulisnya mengatakan bahwa perkembangan pesat konstelasi skala besar akan membuat ruang, terutama orbit Bumi yang lebih rendah, menjadi sangat padat. “Kita harus menetapkan lalu lintas luar angkasa baru berdasarkan teknologi baru, karena jika tidak, pengembangan konstelasi China akan sangat dibatasi,” kata mereka.

China memang terus mencermati program satelit komersial SpaceX, yang menyediakan akses internet untuk pengguna sipil dan militer, dan ini bukan pertama kalinya para ilmuwan Negeri Panda menyuarakan keprihatinan mereka. Setelah mengamati peran Starlink dalam mendukung komunikasi internet Ukraina selama invasi Rusia, sekelompok peneliti militer China pada bulan Mei lalu mendesak Beijing untuk mengembangkan kemampuan menghancurkan jaringan jika perlu.

Infrastruktur awal Starlink sebenarnya memiliki masalah, yakni diperlukan stasiun Bumi untuk meneruskan data dari satu satelit ke satelit lainnya, atau mengirimkan sinyal ke kapal saat perangkat terbang di atas lautan. ini tidak hanya meningkatkan biaya operasional dan membatasi bandwidth, tetapi juga dapat menjadi sasaran yang rentan dalam perang. Satelit generasi baru yang diluncurkan SpaceX pada September tahun lalu merupakan upaya untuk mengatasi masalah tersebut, menggunakan laser untuk berkomunikasi satu sama lain.

Lebih dari 1.400 satelit laser sekarang mengelilingi planet ini, dengan 880 dalam layanan aktif dan menyediakan komunikasi berkecepatan tinggi ke beberapa bagian dunia, menurut perkiraan studi China. Menurut tim Yu, gambar radar beresolusi tinggi menunjukkan bahwa setiap satelit membawa beberapa pemancar laser yang menunjuk ke arah yang berbeda, memungkinkan mereka untuk menjalin komunikasi dengan perangkat serupa di orbit yang sama atau di dekatnya dengan hingga 2.500 km.

Seorang ilmuwan luar angkasa Beijing yang tidak terlibat dalam penelitian tersebut memperingatkan bahwa perubahan minimum dapat meningkatkan risiko tabrakan di orbit Bumi yang lebih rendah. Sementara sistem penghindaran tabrakan aktif dapat mengurangi risiko kecelakaan, tetapi teknologi terbaik pun kadang-kadang bisa gagal, demikian ujar seorang peneliti, yang meminta untuk tidak disebutkan namanya karena sensitivitas masalah tersebut.

“Lima kilometer mungkin menyediakan banyak ruang di darat, tetapi satelit dapat menempuh tersebut hanya dalam setengah detik,” kata peneliti tersebut. “Batas aman yang ada berdasarkan perhitungan ilmiah. Melewati garis dapat menyebabkan beberapa konsekuensi berbahaya, karena satu tabrakan dapat menyebabkan tabrakan lainnya.”

Pemerintah AS telah membantah tuduhan tersebut, sambil menyalahkan China karena gagal memberikan data tentang posisi Tiangong. Sementara itu, SpaceX berencana melakukan spacewalk komersial pertama pada Maret tahun depan, dengan siaran langsung definisi tinggi untuk mendemonstrasikan kekuatan teknologi komunikasi laser.

China sendiri sebenarnya telah membangun jaringan komunikasi laser globalnya dengan sistem navigasi BeiDou dan satelit lainnya, serta membangun jaringan komunikasi komersial, dengan satelit yang jauh lebih sedikit daripada Starlink, untuk menyediakan akses internet berkecepatan tinggi di seluruh planet ini. Otoritas ruang angkasa China berencana untuk memperluas layanan komunikasi laser berkecepatan tinggi dari Bumi ke bulan selama beberapa tahun ke depan.

Pos terkait