Tinggalkan Jepang, China dan Korsel Bersaing di Pasar Mobil Listrik Asia Tenggara

  • Whatsapp
Mobil listrik asal China Wuling mini EV - kompas.com

BANGKOK/MANILA – Pasar kendaraan listrik di kawasan Asia Tenggara semakin berkembang pesat karena para mobil berencana untuk memulai produksi di setidaknya tiga negara ini, sebuah langkah penting untuk membuat mobil elektrik lebih terjangkau bagi konsumen di kawasan itu. Banyak dari perusahaan tersebut berbasis di China dan Korea Selatan, sedangkan pabrikan Jepang, yang sebenarnya menyumbang sekitar 80% dari penjualan mobil baru di Asia Tenggara, justru tertinggal.

Seperti dilansir dari Nikkei Asia, hanya berselang beberapa bulan setelah Hyundai Motor memulai produksi skala penuh di pabrik kendaraan listrik barunya di Indonesia, SAIC-GM-Wuling Automobile asal China meluncurkan mini EV (electric vehicle) baru yang dijadwalkan untuk mulai diproduksi di negara Asia Tenggara pada akhir 2022.

Bacaan Lainnya

Wuling dapat dikatakan sebagai kekuatan pendorong pasar EV China yang sedang berkembang, menjual 420 ribu unit Hongguang Minis di pasaran domestik dengan harga mulai dari 32.800 yuan (4.880 dolar AS) pada lalu. Perusahaan memang belum mengumumkan harga model barunya di Indonesia, tetapi diperkirakan tidak berbeda jauh. Jika demikian, maka kehadiran EV Wuling dapat memacu pasar di dalam negeri lantaran harga sebagian besar model sekarang lebih dari 35 ribu dolar AS.

Indonesia sendiri memanfaatkan cadangan mineralnya yang kaya untuk mempromosikan produksi baterai dan bisnis terkait EV lainnya. Pemerintah bertujuan agar listrik menghasilkan 20% dari semua mobil yang diproduksi di negara ini pada 2025, dan menawarkan insentif pajak bagi untuk mendorong investasi baru.

Sementara itu, tetangga Indonesia, Thailand, menginginkan listrik mencapai 30% dari produksi mobilnya pada 2030 mendatang. Pada tanggal 9 Juni kemarin, negara tersebut menurunkan pajak mobil listrik menjadi 2% dari semula 8% sebagai imbalan atas janji untuk memulai produksi lokal di masa depan. Pemerintah juga memberikan subsidi hingga 150.000 baht (4.240 dolar AS) per unit EV.

Great Wall Motor China lantas merespons dengan memangkas harga awal Ora Good Cat-nya sekitar 8%, menjadi 763.000 baht. Perusahaan mengklaim telah menerima pemesanan untuk lebih dari 4.700 Ora sejak mulai dijual di Thailand, lebih dari dua kali lipat dari seluruh penjualan EV negara itu pada 2021. Ke depan, Great Wall berupaya menurunkan harga dengan memulai produksi di Thailand pada awal tahun 2023.

Toyota Motor dan SAIC Motor juga memanfaatkan insentif yang diberikan otoritas Thailand. Toyota diperkirakan akan mulai menjual EV buatan Jepang di Negeri Gajah Putih pada akhir ini, dengan rencana untuk beralih ke produksi lokal pada awal 2024. Mercedes-Benz Group berencana untuk mulai merakit kendaraan di Thailand tahun ini, sedangkan grup energi Thailand, PTT, menargetkan memulai produksi EV pada tahun 2024 dengan Hon Hai Precision Industry, pabrikan Taiwan yang juga dikenal sebagai Foxconn.

Di Filipina, undang-undang untuk mendukung sektor EV mulai diberlakukan pada bulan Mei kemarin. Aturan itu mengharuskan penyedia logistik dan operator transportasi umum memakai kendaraan listrik setidaknya 5% dari armada mereka pada tanggal yang akan ditentukan kemudian. Pemerintah juga sedang mempertimbangkan insentif baru untuk impor dan manufaktur kendaraan tersebut.

Meski sedang bergeliat, tetapi kurangnya jaringan pengisian daya di kawasan Asia Tenggara dapat menghambat adopsi EV secara luas. Para kritikus juga mengatakan bahwa kendaraan tersebut tidak akan berbuat banyak untuk mengekang emisi karbon di Asia Tenggara, karena masih banyak negara yang sangat bergantung pada bahan bakar fosil untuk listrik.

Untuk pasar ASEAN, mobil Jepang lebih fokus pada plug-in hybrid, sedangkan pemain China dan Korea Selatan sedang membangun infrastruktur pengisian daya mandiri untuk menumbuhkan permintaan. Dengan tren ini, Jepang berisiko kehilangan cengkeramannya di pasar Asia Tenggara, mengingat perkiraan bahwa penjualan kendaraan listrik dapat menyalip mobil bertenaga bensin pada tahun 2035.

Pos terkait