Studi Ilmiah: Bentuk Kota Ternyata Pengaruhi Jumlah Curah Hujan

  • Whatsapp
Ilustrasi : Sebuah kota dilanda hujan - www.metroplanning.org

JAKARTA – Selama ini, orang mungkin lebih sering berpendapat bahwa intensitas hujan di suatu daerah dipengaruhi suhu, angin, dan juga lokasi daerah tersebut. Baru-baru ini, para menemukan bahwa bentuk kota atau daerah Anda ternyata juga menentukan jumlah curah hujan yang akan turun.

Seperti dilansir dari TRT World, sebuah studi yang terbit di Jurnal Earth’s Future, yang berfokus pada pola curah hujan menyimpulkan, kota-kota yang berbentuk segitiga menerima curah hujan paling sedikit dibandingkan dengan kota-kota yang berbentuk persegi atau melingkar. Penulis penelitian percaya bahwa temuan ini berharga untuk perencanaan kota yang berkelanjutan dan tangguh, terutama bagi mereka yang menjalani ekspansi.

Bacaan Lainnya

Melihat kota-kota melingkar, persegi, dan segitiga (seperti Dallas, New York, dan Los Angeles), para ilmuwan membandingkan hasil Weather Research and Forecasting dan simulasi pusaran arus untuk melihat bagaimana bentuk dapat memengaruhi cuaca. “Mereka juga membandingkannya dengan daerah luar kota, baik di pedalaman maupun di sepanjang garis pantai,” catat IFL Science.

Para menemukan bahwa pengaruh bentuk lebih besar di kota-kota di lingkungan pesisir karena aliran dari kota berinteraksi dengan angin laut: Menurut mereka, kota melingkar menerima jumlah curah hujan harian terbesar, yakni 22,0% lebih besar daripada jumlah kota berbentuk segitiga. Secara keseluruhan, bentuk yang paling banyak menarik hujan adalah melingkar, diikuti oleh persegi, dengan hujan paling sedikit jatuh di kota-kota berbentuk segitiga.

“Dengan pertimbangan bahwa perubahan iklim akan mengintensifkan bahaya curah hujan di masa depan, kota-kota global telah menghabiskan sumber daya yang besar untuk mempelajari dan menerapkan berbagai infrastruktur sebagai strategi adaptasi,” catat para penulis. “Hasil kami mengidentifikasi peran tata letak perkotaan yang sampai sekarang kurang dipahami, tetapi penting, terutama di wilayah pesisir. Bentuk kota yang melingkar menunjukkan potensi risiko curah hujan ekstrem dan risiko banjir.”

Seperti diketahui, krisis iklim global telah menciptakan kekeringan parah di beberapa wilayah di dunia, tetapi mengakibatkan banjir dan tanah longsor di wilayah yang lain. Menurut penulis, hasil studi menyoroti kebutuhan untuk mempertimbangkan bentuk kota untuk perencanaan kota pesisir sebagai strategi adaptasi potensial untuk mengelola curah hujan di bawah iklim masa depan.

“Kota-kota sangat rentan terhadap hujan deras karena perluasan material yang kedap air meningkatkan volume limpasan dan selanjutnya meningkatkan risiko banjir di daerah perkotaan,” sambut penelitian tersebut. “Dengan memodifikasi energi permukaan tanah dan keseimbangan kelembapan, kota memiliki dampak penting pada curah hujan regional melalui interaksi tanah-atmosfer.”

Ini adalah penyelidikan pertama tentang dampak bentuk kota terhadap curah hujan perkotaan di lingkungan pedalaman dan pesisir. Para penulis pun mengakui bahwa mereka memiliki beberapa keterbatasan penting dalam penelitian ini, salah satunya waktu dan intensitas curah hujan perkotaan bervariasi, dengan latar belakang angin.

“Kedua, dengan fokus pada efek bentuk kota, topografi lahan sebagian besar diabaikan dalam simulasi kami,” sambung peneliti. “Ketiga, curah hujan perkotaan sensitif terhadap evolusi temporal pemanasan permukaan, yang mungkin dipengaruhi oleh lanskap perkotaan (misalnya kota dan kepadatan perkotaan) dan lingkungan sekitarnya (misalnya suhu tanah atau suhu permukaan laut dalam kasus domain pesisir).”

Pos terkait