Investor Pangkas Posisi Beli Dolar, Rupiah Tetap Berakhir Melemah

  • Whatsapp
rupiah - banjarmasin.tribunnews.com
rupiah - banjarmasin.tribunnews.com

JAKARTA – Rupiah harus puas tertahan di teritori merah pada perdagangan Jumat (14/1) sore justru ketika investor memangkas posisi beli greenback karena menganggap suku bunga AS sudah diperhitungkan. Menurut laporan Bloomberg Index pukul 14.59 WIB, mata uang Garuda berakhir melemah tipis 1,5 poin atau 0,01% ke level Rp14.296 per dolar AS/

Sementara itu, mayoritas mata uang di Benua Asia juga terpantau tidak berdaya melawan greenback. Ringgit Malaysia menjadi yang paling terpuruk setelah turun 0,14%, diikuti peso Filipina dan dolar Taiwan yang sama-sama terkoreksi 0,12%, won Korea Selatan yang melemah 0,09%, dan dolar Singapura yang berkurang 0,03%. Sebaliknya, yen Jepang menguat 0,19%, sedangkan Thailand naik tipis 0,05%.

Bacaan Lainnya

Pengamat pasar uang, Ariston Tjendra, seperti dilansir dari IDN Times, sebelumnya sempat optimistis bahwa rupiah bakal bergerak ke zona hijau pada transaksi sore. Pasalnya, pasar terlihat sudah mengantisipasi suku bunga acuan AS yang mungkin dilakukan Maret 2022. “Jadi, rilis data inflasi AS yang tinggi tidak mendorong pelaku pasar mengambil posisi di greenback,” katanya.

“Dari dalam negeri, ada berbagai positif, seperti dihapusnya larangan ekspor batu bara,” sambung Ariston. “Selain itu, program tax amnesty jilid II yang sedang berjalan juga menambah sentimen positif untuk mata uang Garuda. Tax amnesty jilid II akan menambah pendapatan negara sehingga mempermudah ekonomi Indonesia.”

Dari pasar global, dolar AS menuju penurunan mingguan terbesar dalam delapan bulan pada hari karena investor memangkas posisi beli dan menganggap, untuk saat ini, beberapa suku bunga AS tahun 2022 sepenuhnya diperhitungkan. Mata uang Paman Sam terpantau melemah 0,080 poin atau 0,08% ke level 94,710 pada pukul 11.15 WIB.

“Investor tampaknya mengisyaratkan bahwa mengakhiri pelonggaran kuantitatif, menaikkan suku bunga empat kali, dan memulai pengetatan kuantitatif semuanya dalam waktu sembilan bulan adalah sangat agresif sehingga akan membatasi ruang lingkup untuk lebih jauh,” tutur kepala riset pasar global. di MUFG, Derek Halpenny, dikutip dari Reuters. “Ini sebenarnya memperkuat keyakinan bahwa suku bunga puncak The Fed akan berada di bawah 2%.”

Pos terkait