Barat Kecam Pengerahan Tentara Bayaran Wagner Rusia ke Mali

  • Whatsapp
Ilustrasi: tentara Wagner (sumber: newamerica.org)
Ilustrasi: tentara Wagner (sumber: newamerica.org)

Mali – Pada Kamis (23/12) lalu, sebanyak 16 negara Barat mengeluarkan pernyataan bersama yang mengecam penempatan tentara bayaran dari Grup Wagner Rusia di Mali. Penempatan tentara bayaran ini dilakukan karena Prancis berencana untuk mengurangi kehadiran pasukannya di Mali.

Dilansir dari Deutsche Welle, beberapa negara yang menandatangani pernyataan itu adalah Kanada, Jerman, Inggris, dan 13 sekutu Eropa lainnya. Amerika Serikat tidak menandatangani pernyataan itu, tetapi Menteri Luar Negeri AS, Antony Blinken, memperingatkan Mali untuk tidak menerima tentara bayaran Wagner.

Bacaan Lainnya

“Pengerahan pasukan Wagner hanya akan memperburuk situasi keamanan di Afrika Barat,” bunyi pernyataan itu. “Ini juga akan memperburuk hak asasi manusia dan mengancam perjanjian untuk perdamaian serta rekonsiliasi di Mali.”

Pernyataan tersebut juga menuduh Rusia memberikan dukungan material kepada organisasi paramiliter Rusia Wagner di Mali. Mereka pun sepakat menyerukan Rusia untuk kembali ke perilaku yang bertanggung jawab dan konstruktif di wilayah tersebut.

Para wakil negara yang menandatangani deklarasi menyesali otoritas Mali untuk menggunakan dana negara yang telah menipis untuk membayar tentara bayaran asing seperti Wagner. Padahal, dana negara tersebut sebaiknya disimpan atau digunakan untuk mendukung angkatan bersenjata Mali.

Mali sebelumnya telah berjuang untuk mempertahankan keamanan dari pemberontakan ekstremis Islam. Pemberontak ekstremis dipaksa turun dari kekuasaan di kota-kota utara negara dengan bantuan militer. Namun, para pemberontak berkumpul lagi di padang dan mulai menyerang pasukan Mali.

Alasan Mali membayar Wagner disebabkan Presiden Prancis, Emmanuel Macron, mengumumkan penarikan pasukan mereka di wilayah Sahel pada awal 2022. Prancis telah mengatakan bahwa pasukan Mali siap mengambil alih dalam pemberontakan di Mali Utara. Macron berjanji kepada para pemimpin Afrika, Prancis akan terus membantu memerangi kelompok-kelompok yang terkait dengan al-Qaida dan Islamic State.

Macron sendiri sebenarnya akan menyampaikan kekhawatiran atas Wagner dalam pertemuan dengan presiden sementara Mali yang baru, Assimi Goita. Namun, ini dibatalkan karena pandemi COVID-19. Pasukan Prancis telah berada di Mali sejak 2013, ketika mereka melakukan intervensi untuk menghentikan pemberontakan di utara negara itu.

Saat ini, ada kekhawatiran risiko keamanan yang berkembang di Mali, yang dipimpin oleh Kolonel Asimi Goita, pemimpin transisi yang mulai menjabat pada Juni setelah kudeta kedua di negara itu dalam waktu kurang dari setahun. Tak hanya keamanan, kekhawatiran komitmen bahwa pemilihan umum pada 2022 terancam gagal dilaksanakan akibat dana yang sudah terkuras untuk membayar Wagner.

Juru bicara Departemen Luar Negeri AS, Ned Price, khawatir dengan potensi penyebaran Wagner di Mali dilandasi dengan yang akan menelan biaya USD 10 juta per bulan. Price juga mencatat, Yevgeniy Prigozhin, seorang pengusaha Rusia dan rekan dekat Presiden Rusia, Vladimir Putin, yang diyakini menjalankan Grup Wagner, dikenai sanksi oleh AS, Inggris, dan Uni Eropa.

Pos terkait