Bangun Koridor Zangezur, Turki Usik Eksistensi Rusia dan China di Asia Tengah?

  • Whatsapp
Koridor Jalan dan Rel Kereta Api Turki - clairesfootsteps.com
Koridor Jalan dan Rel Kereta Api Turki - clairesfootsteps.com

ISTANBUL – Kemenangan menentukan Azerbaijan dalam perang Nagorno-Karabakh pada 2020 telah menciptakan realitas baru di lapangan. Melalui koridor transit yang diberikan kepada Azerbaijan sebagai bagian dari penyelesaian gencatan senjata, Turki berpotensi mendapatkan kembali akses langsung ke sesama negara di Asia Tengah, mengisyaratkan kemungkinan mengangkat blok etnis menjadi kekuatan politik, sekaligus mengusik kekuatan Rusia dan China di kawasan tersebut.

Seperti diberitakan Nikkei, ketika para pemimpin sejumlah negara berkumpul di Istanbul pada pekan lalu untuk menghadiri pertemuan puncak Dewan Turki, mereka bersikukuh untuk merebut peluang emas yang ada di depan mereka. Para pemimpin tersebut ingin memanfaatkan geografi menguntungkan mereka untuk mengukir peran baru bagi dunia Turki.

Bacaan Lainnya

Untuk mengilustrasikan pentingnya kedudukan Ankara dalam pengelompokan tersebut, mereka mengalokasikan sebuah bangunan bersejarah yang besar di Istanbul sebagai kantor sekretariat jenderal dewan yang baru. Bangunan berwarna salmon di dekat Sultanahmet, rumah bagi istana Bizantium dan Ottoman, terletak hanya beberapa langkah dari makam salah satu Sultan Ottoman, Abdulhamid II.

Pembukaan gedung tersebut melambangkan komitmen Presiden Turki, Recep Tayyip Erdogan, kepada dewan, yang beranggotakan Turki, Azerbaijan, Kazakhstan, Uzbekistan, Kirgistan, dan Turkmenistan untuk berbagi ikatan sejarah dan bahasa. “Mulai sekarang, dewan kami akan disebut Organisasi Negara-Negara Turki,” kata Erdogan pada KTT 12 November lalu.

Setelah perang Nagorno-Karabakh, Azerbaijan diberi hak untuk membuat koridor transportasi melalui Armenia yang menghubungkan eksklave Nakhichevan ke seluruh negeri. Koridor jalan dan rel yang disebut Zangezur akan memberikan Turki, akses langsung tidak hanya ke Azerbaijan, tetapi ke seluruh Asia Tengah. Sebelumnya, akses tersebut sempat diblokir Armenia, memaksa Turki dan Azerbaijan melalui Georgia guna melewati Armenia di Kaukasus Selatan.

Di sela-sela KTT, menteri ekonomi Kazakhstan dan Azerbaijan mengatakan kepada Nikkei Asia bahwa negara-negara Turki akan memfasilitasi pergerakan barang lebih lanjut dan menghilangkan hambatan perdagangan untuk meningkatkan konektivitas dan perdagangan. Turki bermaksud agar Koridor Tengahnya, Koridor Timur-Barat Trans-Kaspia yang membentang dari China ke Eropa, menjadi arteri yang mengikat dunia Turki.

“Jika Anda melihat geografi kami, banyak negara anggota yang terkurung daratan,” kata Menteri Ekonomi Azerbaijan, Mikayil Cabbarov. “Padahal perdagangan dan investasi timbal balik antara anggota negara-negara berbahasa Turki berkembang pesat, 30 tahun setelah kemerdekaan negara-negara Asia Tengah dan Azerbaijan. Itu tidak berarti kami tidak bisa melakukan yang lebih baik dan itulah yang kami fokuskan.”

Visi Dunia Turki 2040 yang diadopsi di KTT menyebut Koridor Tengah sebagai jaringan transportasi terpendek dan teraman antara Timur dan Barat, dan mengatakan penting untuk memasukkan negara-negara anggota ke dalam rantai pasokan. Menteri Ekonomi Nasional Kazakhstan, Aset Irgaliyev, menuturkan bahwa menyederhanakan perdagangan lintas batas dan menyatukan aturan transportasi-transit akan membantu dan memberikan dorongan untuk meningkatkan volume perdagangan.

Murat Karatekin, Pasifik Eurasia, operator terbesar di Koridor Tengah di Turki, menguraikan manfaat perdagangan dari hubungan yang lebih erat di antara negara-negara Turki dengan meningkatkan kerja sama dalam digitalisasi. Menurutnya, layanan digital terintegrasi antar-negara memungkinkan pelanggan untuk melacak kargo mereka secara online dan menyediakan antara operator dari berbagai negara, yang secara signifikan mempersingkat waktu tunggu.

Michael Tanchum, rekan senior di Austrian Institute of European and Security Policy dan rekan non-residen di Middle East Institute di Washington, mengatakan bahwa munculnya koridor Turki semacam itu akan mengkhawatirkan bagi Beijing. Turki pada akhirnya dapat menimbulkan ancaman sistemik terbesar bagi China di kawasan Asia Tengah begitu Ankara meningkatkan kapasitasnya.

“Bagi Beijing, itu adalah, dan masih, masalah mengonsolidasikan cengkeramannya atas arsitektur komersial Asia Tengah sebelum Turki membangun kapasitas yang diperlukan,” katanya. “Turki telah menempuh jauh dalam hal itu selama dekade terakhir. Sementara China, dalam beberapa hal, belum pindah ke Asia Tengah dengan cara yang cukup komprehensif untuk mengalahkan Turki.”

Ia menambahkan, China sebelumnya merasa nyaman dengan ambisi Ankara di Asia Tengah karena dua alasan. Dia mengutip ancaman serangan balasan Rusia jika Turki melakukan intervensi besar-besaran di Azerbaijan, serta kurangnya hubungan langsung Turki dengan Azerbaijan dan akses Laut Kaspia ke Asia Tengah. “Kedua kendala ini lantas menguap setelah perang Nagorno-Karabakh 2020,” ujar Tanchum.

Namun, untuk sepenuhnya memanfaatkan potensi Koridor Tengah, biaya yang diambil oleh negara bagian dalam penggunaan jalan dan rel harus dipangkas. Hambatan dalam penerbitan visa bagi pengemudi truk juga harus dihilangkan, kapasitas feri di pelabuhan antara Azerbaijan dan Kazakhstan-Turkmenistan harus ditingkatkan, dan jadwal harus diperbaiki dan harganya harus diturunkan. 

Tidak cuma Turki, koridor Nakhichevan melalui Armenia juga bisa menguntungkan banyak pemain. Perdana Menteri Armenia, Nikol Pashinyan, pada prinsipnya menyambut baik rencana tersebut, karena mereka akan memiliki jalur yang andal dan darat dengan Federasi Rusia dan Republik Islam Iran. Sementara itu, bagi Rusia, pembukaan kembali tautan ini berarti lalu lintas barang dapat melewati Pegunungan Kaukasus dan Georgia yang pro-Barat untuk terhubung ke Armenia dan Iran untuk pertama kalinya dalam tiga puluh tahun.

Sejauh ini, negara-negara berbahasa Turki, termasuk Turki sendiri, telah berhati-hati untuk tidak memusuhi China. Terlepas dari hype persatuan Turki, baik deklarasi akhir KTT maupun dokumen Turkic World Vision-2040, mereka pun tidak menyentuh minoritas etnis Uighur China di Provinsi Xinjiang, lokasi pelanggaran hak asasi manusia terhadap kelompok ini dituduhkan.

“Namun, ketika Ankara memperdalam kerja sama ekonomi dan keamanannya dengan negara-negara Turki di Asia Tengah, mereka dapat semakin menjaga keseimbangan kekuatan antara Rusia dan China dalam arsitektur Eurasia,” papar Tanchum. “Dari posisi kekuatan geopolitik yang lebih besar, Turki dapat memilih untuk membalikkan persetujuannya saat ini terhadap kebijakan Xinjiang China dan menekan Beijing sebagai pemain kekuatan dalam arsitektur Eurasia yang baru muncul.”

Pos terkait