Australia dan Jepang Tandatangani Perjanjian Pertahanan, Indonesia dan China Makin Mesra

  • Whatsapp
PM Jepang Fumio Kishida & PM Australia Scott Morrison (sumber: wallpaperspeed.com)
PM Jepang Fumio Kishida & PM Australia Scott Morrison (sumber: wallpaperspeed.com)

Tokyo – Jepang dan Australia menandatangani perjanjian pertahanan bersejarah sebagai bentuk sikap penentangan keagresifan China di kawasan Indo-Pasifik. Menanggapi hal itu, China malah menggandeng Indonesia untuk maju ke ranah ekonomi internasional.

Hubungan perdagangan Indonesia-China semakin mesra apabila dilihat dari nilai perdagangan antar kedua negara berdasarkan SindoNews.com. Periode Januari-September 2021 saja, nilai perdagangan China dan Indonesia mencapai USD85,4 miliar.

Bacaan Lainnya

Berkat hubungan yang baik, berbagai produk Indonesia bisa diekspor ke China dengan mudah. Ini sejalan dengan kesepakatan kerjasama bisnis senilai USD1,43 miliar atau setara dengan Rp20,5 triliun antara Indonesia dan China.

“Sebab itu, dari Indonesia perlu mempersiapkan diri utamanya penguasaan bahasa Mandarin yang baik,” kata Chairman & Founder ChineseRd Guo Xinlin. “Setiap kesepakatan bisnis antara Indonesia dan China, rata-rata menggunakanan bahasa Mandarin sebagai bahasa resminya.”

Bekerja sama dengan Indonesia di dunia ekonomi internasional, membuat China terlihat agresif untuk maju sebagai negara maju terkuat di internasional. Upaya lain yang dikerahkan China untuk menjadi penguasa pasar ASEAN adalah memperkuat pertahanan negara.

Pergerakan China di dunia perekonomian internasional dan pertahanannya yang kuat, lantas membuat Australia dan Jepang bekerja sama untuk memperkuat hubungan melawan China. Tak hanya itu, Australia dan Jepang kian memperkuat blok politik yang didukung AS dalam menghadapi raksasa Asia (China).

Dikutip dari TRT World, Australia dan Jepang adalah dua negara Pasifik yang memiliki kecenderungan anti-China yang kuat. Sydney dan Tokyo telah menandatangani Reciprocal Access Agreement (RAA), yang mengizinkan kedua negara untuk melakukan latihan di wilayah negara Jepang dan Australia tanpa izin.

Para pemimpin Jepang dan Australia memuji kesepakatan itu sebagai pencapaian besar untuk mengamankan kepentingan bersama mereka di Pasifik. “RAA adalah sebuah bentuk peningkatan keamanan strategis bersama untuk menghadapi Beijing yang sungguh menghawatirkan,” Kata Australia Scott Morrison. Sementara itu, Perdana Menteri Jepang Fumio Kishida menggambarkan RAA sebagai instrumen penting dari kerjasama Australia dan Jepang.

Di sisi lain, China menunjukkan sikap yang tenang saat mengetahui kesepakatan antara Tokyo dan Sydney. “Samudera Pasifik cukup luas untuk pembangunan bersama negara-negara di kawasan itu,” kata juru bicara kementerian luar negeri China Wang Wenbin dalam bahasa klasik China.

Sementara China mengejar kebijakan luar negeri ekspansionis di seluruh dunia, termasuk bekerja sama dengan Indonesia, itu tidak didasarkan pada pendudukan atau konfrontasi seperti yang telah dilakukan AS dan Rusia di masa lalu. “Ini sepenuhnya bergantung pada pendekatan kekuatan lunak, menghasilkan banyak solusi untuk menang,” kata Richard Falk, seorang profesor hukum internasional terkemuka.

Kesepakatan Australia-Jepang tampaknya menjadi mata rantai terbaru dalam rantai aliansi Barat anti-China di Pasifik. Ini juga merupakan upaya untuk memperkuat Quad, sebuah dialog strategis antara AS, India, Jepang, dan Australia sebagai tanggapan atas kehadiran tegas China di kawasan Pasifik.

Pos terkait