Rawan Topan dan Banjir, Negara Asia Pasifik Disarankan Pakai Peramalan Cuaca Berbasis AI

  • Whatsapp
Penampakan Cuaca Buruk dari Citra Satelit (Sumber : emerj.com)

MESIR – CEO Atmo, startup peramalan cuaca menggunakan AI (artificial intelligence) yang berbasis di California, Alexander Levy, mengungkapkan bahwa kawasan Asia Pasifik ke depannya akan diganggu mulai dari angin topan dan banjir hingga gelombang panas dan kekeringan secara teratur. Ia sendiri menganjurkan negara-negara untuk beralih dari sistem peramalan klasik ke kecerdasan buatan karena dapat meningkatkan perkiraan mengenai kondisi cuaca.

Dalam wawancara -baru ini di sela-sela KTT COP27 di Mesir, Levy menggambarkan Asia Pasifik sebagai ‘kawasan yang sangat strategis’, karena populasinya yang sangat besar, kerentanan terhadap cuaca ekstrem, dan kebutuhan peningkatan peramalan cuaca yang ‘sangat mendesak’. Pernyataan itu muncul ketika Organisasi Meteorologi Dunia memperkirakan bahwa Asia menderita kerugian ekonomi hampir 36 miliar dolar AS akibat cuaca ekstrem pada tahun 2021 saja, dengan hampir 50 juta orang terkena dampaknya.

Bacaan Lainnya

“Kecerdasan buatan adalah kunci untuk meningkatkan prakiraan,” ujar Levy, yang juga pendiri Atmo, seperti dilansir dari Nikkei Asia. “Sifat pembelajaran yang dapat mengoreksi sendiri berarti dapat memprediksi peristiwa cuaca ekstrem yang jauh lebih akurat yang menyimpang dari norma sejarah saat suhu global meningkat.”

Ia melanjutkan, sistem AI jauh lebih untuk mengikuti laju perubahan karena mereka dirancang pada intinya untuk belajar dengan cepat dari data dan mengoreksi berdasarkan keadaan yang muncul. Ia mengklaim bahwa sistem dari Atmo dapat secara otomatis diperbarui setiap 15 menit sekali.

Didirikan pada tahun 2020, Atmo mengembangkan sistem prakiraan cuaca berbasis AI, sistem peringatan dini, dan model cuaca, terutama bermitra dengan badan meteorologi nasional untuk diintegrasikan ke dalam infrastruktur untuk tugas-tugas seperti tanggap bencana. Uganda sudah menggunakan teknologi perusahaan, sedangkan Prancis dan Jerman memakainya pada proyek-proyek tertentu. Sementara sistem peringatan dini untuk Indonesia diharapkan juga diaplikasikan dengan segera, Atmo mengatakan militer AS adalah klien mereka yang lain.

Menurut PBB, setengah dari negara-negara di dunia tidak memiliki sistem peringatan dini untuk membantu masyarakat mempersiapkan diri menghadapi peristiwa-peristiwa berbahaya terkait iklim, dengan negara-negara berkembang di -tempat seperti Pasifik seringkali memiliki cakupan yang lemah. Global Commission on Adaptation yang berbasis di Belanda memperkirakan bahwa membelanjakan 800 juta dolar AS untuk sistem semacam itu dapat menghindari kerugian 3 miliar dolar AS hingga 16 miliar dolar AS setiap tahun, serta melindungi nyawa manusia.

“Negara-negara kaya sering menggunakan bentuk peramalan tradisional mutakhir yang sayangnya tidak mampu dilakukan oleh negara-negara miskin dan rentan dengan perubahan iklim,” sambung Levy. “AI dan pembelajaran masuk dengan membuat sistem lebih efisien, yang juga membuatnya jauh lebih terjangkau.”

Atmo mengatakan, pihaknya telah menandatangani perjanjian kemitraan untuk menyediakan sistem peringatan dini banjir bandang dan siklon di Indonesia, yang menurut Levy adalah salah satu tantangan terbesar di semua meteorologi di seluruh dunia, karena bentangan lautan yang luas ribuan pulau. Perusahaan berharap sistem tersebut, yang terutama akan berfokus pada perkiraan badai, prediksi banjir bandang ekstrem, dan prakiraan hujan, akan mulai beroperasi tahun depan.

“Kami juga sedang berdiskusi dengan negara Asia Tenggara lainnya dan sedang dalam proses perencanaan dengan mitra di Jepang untuk sebuah sistem yang dapat online pada tahun 2023,” imbuh Levy. “Kami memperkirakan bahwa dalam sepuluh tahun ke depan, hampir setiap negara akan beralih dari cara memprediksi cuaca klasik ke cara berbasis AI ini. Itu secara dramatis akan meningkatkan kemampuan manusia untuk menanggapi perubahan iklim.”

Pos terkait