AS, Rusia, dan China Disinyalir Berlomba Merancang Senjata Hipersonik Terkuat

  • Whatsapp
Rudal hipersonik Kinzhal milik Rusia - www.kompas.com

Washington – Ketika ketegangan global terus meningkat, AS, Rusia, dan China disinyalir berlomba merancang senjata hipersonik terkuat. Meskipun begitu, belum ada kepastian pemenang dari perlombaan adu rudal tersebut.

Pada tanggal 29 Mei 2022, Rusia mengumumkan uji coba rudal hipersonik ‘Zircon’ yang berhasil. Itu adalah tambahan senjata baru dalam adu mekanik dengan Amerika Serikat (AS) dan China. Rudal hipersonik ‘Zircon’ diharapkan bisa mulai beroperasi tahun ini. Tes awal menunjukkan, rudal tersebut memiliki jangkauan maksimal hingga 500 kilometer dengan target penyerangan di Laut Putih yang jaraknya hampir 1.000 kilometer.

Bacaan Lainnya

Zircon yang sudah hampir selesai pengembangannya, diperkirakan mampu terbang sembilan kali lebih cepat daripada kecepatan suara. Itu setara dengan 2,7 hingga 3,2 kilometer per detik. Ini menimbulkan kekhawatiran besar bagi AS yang harus menghadapi militer di tengah meningkatnya persaingan global.

“AS mungkin telah kehilangan keunggulan teknis dalam hipersonik,” ucap Wakil Ketua Staf Gabungan Jenderal Paula Selva kepada jurnalis TRT World. “Namun, kami belum kalah dalam pertarungan hipersonik.”

Sebelumnya, AS telah melakukan 17 kali uji coba rudal hipersonik dengan 10 kali kegagalan. Meskipun begitu, AS mengklaim memiliki senjata hipersonik operasional di gudang senjata mereka sejak 2010. Tak hanya itu, laporan tanggal 5 Maret 2022 yang diajukan AS mengidentifikasi USD4,7 miliar dialokasikan untuk penelitian, pengembangan, dan pengujian hipersonik untuk tahun 2023. Pendanaan tersebut naik dari USD3,8 miliar di tahun 2022 dan USD2,6 miliar di tahun 2020.

Meskipun program hipersoniknya sebagian besar masih dalam pengembangan, AS tetap ingin tes uji coba untuk menghindari konflik dengan Rusia. Beberapa hari setelah peluncuran rudal hipersonik Kinzhal Rusia pada pertengahan Maret 2022, AS melakukan uji coba pertama yang berhasil dari Lockheed Martin ‘Hypersonic -breathing Weapon Concept’ (HAWC), tetapi tidak dimasukkan dalam berita selama dua minggu di tengah invasi Rusia di Ukraina.

Uji coba HAWC terbaru berhasil diluncurkan dengan nuklir B-52 di New Mexico, mencapai Mach 5,8 atau hampir 1,98 kilometer per detik. Sementara AS masih menyelesaikan pengembangan rudalnya, Rusia telah menggunakan rudal hipersonik beberapa kali di sejak 24 Februari, termasuk peluncuran tiga rudal hipersonik ‘Kinzhal’ ke Odessa Oblast.

“Perubahan teknologi terjadi dengan cepat,” kata Presiden Rusia Vladimir Putin saat peluncuran rudal hipersonik pertama Rusia. “Mereka yang memanfaatkan teknologi baru ini di masa depan. Mereka yang tidak mampu melakukan itu akan terkubur di bawah gelombang kemajuan teknologi ini.”

Sementara itu, China mengklaim telah mengembangkan kecerdasan buatan yang memprediksi lintasan rudal hipersonik, selain diduga mengembangkan teknologi pelacak inframerah yang mereka klaim AS tidak akan miliki hingga 2025.

Diberi nama DF-17, rudal hipersonik China memiliki jangkauan maksimum 2.500 kilometer dengan kecepatan hingga 7.680 mil per jam (12.360 km/jam) atau 10 kali lipat kecepatan suara. Rudal ini kini dikenal sebagai hukuman mati bagi induk yang berada dalam jangkauannya.

Pos terkait