AS Klaim Provokasi Laut China Selatan Hasilkan Insiden Besar

  • Whatsapp
Wilayah Laut China Selatan - id.usembassy.gov
Wilayah Laut China Selatan - id.usembassy.gov

Washington – Pejabat petinggi Amerika Serikat (AS) klaim provokasi di Laut China Selatan meningkat. AS juga memperingatkan bahwa hanya masalah waktu sebelum agresif dan tidak bertanggung jawab seperti ini menghasilkan insiden besar.

Frekuensi dan intensitas insiden berbahaya antara militer AS dan China di kawasan Laut China Selatan memang meningkat. Dilansir dari South China Morning Post, kemungkinan eskalasi tentu lebih tinggi setelah kunjungan Ketua Dewan Perwakilan Rakyat Amerika Serikat Nancy Pelosi ke Taiwan.

Bacaan Lainnya

“Tren provokasi RRT (Republik Rakyat Tiongkok) yang jelas dan meningkat terhadap penuntut Laut Cina Selatan dan negara-negara lain yang beroperasi secara sah di kawasan itu,” kata perwakilan Biro Urusan Asia Timur dan Pasifik Departemen Luar Negeri AS Jung Pak. “AS perlu berhenti sejenak dan memeriksa siapa yang memprovokasi siapa.”

Ely Ratner, Asisten Menteri Pertahanan untuk Urusan Keamanan Indo-Pasifik, melangkah lebih jauh dengan menyatakan bahwa secara sistematis menguji batas tekat kolektif. Ini menjadi kebijakan China. Pernyataannya dikomentari oleh ketua Kepala Staf Gabungan Mark Milley bahwa militer China, di udara dan di laut, telah menjadi lebih agresif di wilayah Laut China Selatan.

Di sisi lain, AS menanggapi tindakan China yang agresif dengan upaya melumpuhkan sistem komando, kontrol, komunikasi, intelijen, pengawasan, dan pengintaian China menggunakan kapal selam nuklir di Yulin, Hainan. Kapal selam ini sudah dilengkapi probe ISR untuk mendeteksi, melacak, dan menentukan kemampuan kapal selam China.

Bagi China, AS menjadi lebih tegas di Laut China Selatan. Ini dimulai dengan ‘poros’ 2011 dan diikuti peningkatan kebebasan navigasi, penyelidikan ISR, proyeksi penggunaan kelompok kapal induk, penggunaan pesawat pengebom, dan penggunaan kapal selam berkemampuan nuklir.

Apalagi AS melakukan semua itu dengan mendetail. Pada masa pemerintahan Donald Trump, ada sejumlah aktivitas militer AS di Laut China Selatan yang menantang sebagai penyelesaian dari tindakan China yang berusaha merusak tatanan internasional. Situasi menjadi semakin mengkhawatirkan, sehingga takut akan serangan terhadap instalasinya. Situasi semakin memburuk di masa pemerintahan Joe Biden.

Sebelumnya, insiden yang menggemparkan terjadi ketika China menantang penyelidikan ISR AS yang dianggap mengancam keamanan. Untuk itu, saat ini militer AS melakukan empat misi ISR dalam sehari di Laut China Selatan. 

Sementara itu, provokasi yang terjadi pekan lalu, memuat lebih dari 50 pesawat tempur AS dan Jepang menggelar unjuk kekuatan di atas Laut China Timur. Menggunakan manuver canggih, tempur AS menyeberangi garis tengah yang diklaim Jepang dengan China.

Setelah lepas dari rasa khawatir yang mendalam, Pelosi malah berkunjung ke yang dianggap sebagai provinsi pemberontak oleh China. AS bisa dikatakan terlibat dalam dilema keamanan klasik Laut China Selatan. 

Ini situasi ketika suatu negara membuat negara lain merasa keamanannya terancam. AS perlu berhenti mengulangi dan mempercayai propagandanya sendiri dan mengenali situasi apa adanya, kemudian menanganinya dengan kepala jernih.

Pos terkait

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan.