Digunakan dalam Berbagai Bidang, Apa Arti Konstituen?

  • Whatsapp
konstituen adalah
Arti kata konstituen

Seperti diketahui, banyak kosakata dalam bahasa Indonesia yang diadaptasi dari bahasa asing. Tidak hanya Belanda dan Arab atau bahkan bahasa daerah seperti Jawa, sejumlah bahasa yang digunakan sehari-hari atau dalam berbagai bidang juga diadopsi dari bahasa asing, salah satunya konstituen. Lalu, apa arti kata tersebut dan bagaimana penggunaannya?

Bahasa Indonesia memiliki posisi yang strategis dalam kehidupan berbangsa dan bernegara. Bahasa Indonesia yang sekaligus menjadi identitas kebangsaan Indonesia mengemban dua fungsi istimewa, yakni sebagai bahasa negara dan sebagai bahasa nasional.[1] Fungsi bahasa Indonesia sebagai bahasa negara sudah dijelaskan dalam UUD 1945, sedangkan fungsinya sebagai bahasa nasional adalah sebagai identitas dan lambang kebangsaan, selain sebagai alat pemersatu antar-daerah.

Bacaan Lainnya

Proses Adopsi dan Adaptasi Bahasa Indonesia

Sering dikatakan berasal dari bahasa Melayu, nyatanya perbendaharaan bahasa Indonesia juga tidak terlepas dari kata serapan dari berbagai bahasa asing, misalnya bahasa Inggris, bahasa Jerman, bahasa Belanda, bahasa Prancis, dan bahasa Arab. Dilansir dari website Balai Bahasa Jawa Tengah, kata-kata asing itu masuk ke dalam bahasa Indonesia melalui setidaknya empat cara, yakni adopsi, adaptasi, penerjemahan, dan kreasi.

“Cara adopsi terjadi apabila pemakai bahasa mengambil bentuk dan makna kata asing yang diserap secara keseluruhan. Kata supermarket, plaza, mall, dan hotdog merupakan contoh cara penyerapan adopsi,” tulis Balai Bahasa Jawa Tengah. “Cara adaptasi terjadi apabila pemakai bahasa hanya mengambil makna kata asing yang diserap dan ejaan atau cara penulisannya disesuaikan ejaan bahasa Indonesia. Kata-kata seperti pluralisasi, akseptabilitas, maksimal, dan kado merupakan contoh kata serapan adaptasi.”

Sementara itu, cara penerjemahan terjadi apabila pemakai bahasa mengambil konsep yang terkandung dalam bahasa asing, kemudian mencari padanannya dalam bahasa Indonesia, seperti overlap yang menjadi tumpang-tindih, acceleration menjadi percepatan, project menjadi proyek rintisan, dan try out menjadi uji coba. Terakhir, kreasi terjadi jika pemakai bahasa hanya mengambil konsep dasar yang ada dalam bahasa sumbernya, lalu dicari padanannya, tetapi tidak menuntut kemiripan fisik seperti pada penerjemahan.

Masuknya istilah asing ke dalam bahasa Indonesia memang menjadi sesuatu yang tidak terhindarkan. Ada dua perlakuan terhadap istilah asing ini, yakni menyerap dan menerjemahkan atau memadankan.[2] Kata analysis misalnya, diubah ke bahasa Indonesia menjadi analisis, sedangkan kata complementary menjadi komplementer, dan kata standard menjadi standar.

Apa Arti Konstituen?

Istilah asing lainnya yang sudah diserap dalam bahasa Indonesia adalah constituent, yang menjadi konstituen. Berdasarkan kamus Cambridge, constituent diartikan sebagai one of the parts that substance or combination is made of. Sementara itu, Oxford Learner’s Dictionaries mendefinisikan constituent sebagai “a person who lives, and can vote in a constituency” atau “one of the parts of something that combine to form the whole.”

konstituen-bahasa
Contoh konstituen kalimat dalam linguistik

Lalu, bagaimana dengan di Indonesia? Dilansir dari Kamus Besar Bahasa Indonesia versi dalam jaringan atau online, konstituen berarti bagian yang penting, misalnya natrium adalah konstituen dapur. Konstituen juga dapat diartikan sebagai unsur bahasa yang merupakan bagian dari satuan yang lebih besar, bagian dari atau pendukung konstruksi.

Meski sudah dijelaskan dalam Kamus Besar Bahasa Indonesia, ternyata makna konstituen dapat berbeda-beda dalam berbagai bidang. Dalam bidang linguistik atau bahasa misalnya, konstituen bisa diartikan sebagai unsur, yakni sesuatu yang dengannya, sesuatu yang lain menjadi ada.[3] Dengan kerangka pikir ini, maka masing-masing unsur atau konstituen dalam suatu kalimat pasti memiliki kontribusi yang berbeda demi kebermaknaan kalimat tersebut.

Terdapat beberapa cara dalam menentukan konstituen dalam sebuah kalimat, yakni kohesi internal, parameter makna, diversitas internal, parameter kebebasan berkombinasi, dan suprasegmental sendi, tekanan, dan nada.[4] Cara-cara tersebut akhirnya mengarah atau bermuara pada parsing, yakni bermakna suatu cara untuk mengenali bagian-bagian suatu kalimat, apakah subjek, predikat, objek, atau keterangan.

konstituen dalam kimia
Natrium merupakan konstituen dari dapur

Arti konstituen sebagai unsur atau kandungan juga digunakan dalam bidang kimia dan ilmu alam secara umum. Konstituen kimia adalah kandungan kimia dari suatu spesi yang meliputi gugus fungsi kimia yang mampu melakukan delokalisasi elektron, sebagai upaya penstabilan spesi-spesi yang berbahaya. Natrium misalnya, merupakan konstituen dari dapur.

Sementara itu, di bidang politik, konstituen dapat diartikan sebagai warga negara yang diwakili oleh seorang legislator yang terpilih dalam pemilu.[5] Bagian dari legislator dalam demokrasi adalah melayani konstituen ini dengan mewakili kepentingan mereka dalam lembaga legislatif dan dengan menyediakan hubungan langsung dengan pemerintah. Hubungan legislator dengan konstituen melibatkan komunikasi dengan mereka, belajar tentang apa yang menjadi masalah mereka, dan sejauh mungkin dan wajar, membantu menyelesaikan masalah mereka.

Konstituen juga bisa disebutkan sebagai masyarakat yang merasa diwakili oleh suatu ideologi tertentu yang kemudian termanifestasikan dalam institusi politik.[6] Definisi tersebut menegaskan bahwa konstituen adalah pemegang otoritas yang sesungguhnya. Jika otoritas itu dipercayakan atau diberikan kepada orang lain, maka orang lain itu disebut pemimpin. Ia dapat bertindak mewakili atau atas nama konstituen dalam rangka memberikan pelayanan.

[1] Akmaluddin. 2016. Problematika Bahasa Indonesia Kekinian: Sebuah Analisis Kesalahan Berbahasa Indonesia Ragam Tulisan. Mabasan, Vol.10(2): 63-84.
[2] Sarwoko. T. A. 2003. Inilah Bahasa Indonesia Jurnalistik. Yogyakarta: Andi Offset.
[3] Suparto. 2011. Pengidentifikasian Konstituen dan Tipe Kalimat Bahasa Indonesia: Tinjauan Semantik. Proceeding PEAT (Psikologi, Ekonomi, Sastra, Arsitektur & Sipil), Vol. 4: 18-24.
[4] Parera, Jos Daniel. 1993. Sintaksis (Edisi 2). Jakarta: Gramedia Pustaka Utama, hlm. 57-59.
[5] National Democratic Institute. Hubungan dengan Konstituen: Panduan Menuju Praktek-Praktek Terbaik, hlm. 6.
[6] Budiardjo, Miriam. 2008. Dasar-Dasar Ilmu Politik (Edisi Revisi). Jakarta: PT Gramedia Pustaka Utama, hlm. 102.

Pos terkait