Amerika Serikat Masih Dibayangi Krisis Pengangguran

Amerika Serikat – Meski Oktober tahun ini boleh dibilang sebagai bulan terbaik sepanjang 2015 dalam angka tenaga kerja Amerika Serikat (AS), namun itu rupanya belum bisa dijadikan fakta yang menggembirakan. Pasalnya, sudah delapan tahun sejak resesi dimulai (sekitar 2007-2008 lalu), ada kurang lebih 8,7 juta yang hilang.

Tercatat ada 25 bagian yang mencapai tingkat pengangguran pra-resesi. Ini merupakan resesi terburuk sejak the Great Depression.

Bacaan Lainnya

“Sangat penting untuk dicatat bahwa apa yang kita hadapi bukan hanya krisis pekerjaan. Ini lebih merupakan wabah ketimpangan yang perlu perbaikan dengan lebih fundamental,” kata pengamat ekonomi, William Greider. “Pada titik tertentu, itu akan menjadi pertanda jelas bahwa perekonomian kita tidak akan benar-benar pulih,” lanjutnya. “Hal ini akan pulih jika kapitalisme Amerika digunakan untuk melayani kepentingan masyarakat, bukan malah sebaliknya.”

Pada bulan Oktober lalu, ada sekitar 271 ribu tenaga kerja (non farmpayroll) yang bertambah. Angka ini jauh lebih besar ketimbang perkiraan survei pasar dan prediksi para ekonom yang membanderol prediksi di angka 185.000 tenaga kerja.

Tak hanya itu, tingkat pengangguran di Negeri Paman Sam turun menjadi 5 persen. Ini level terendah sejak 2008. Tentunya hal tersebut adalah capaian angka pengangguran terbaik AS sejak krisis finansial dan bencana subprime mortage pada 2008-2009.

Sementara, orang-orang yang bekerja paruh waktu karena perlambatan ekonomi beberapa tahun belakangan angkanya turun menjadi 5,7 juta pada Oktober. Penurunan pekerja paruh waktu menunjukkan pemilik usaha cukup percaya diri terhadap perekonomian negaranya sehingga memunculkan keberanian guna terus mengambil lebih banyak karyawan fulltime. Artinya, perekonomian AS terlihat telah mulai kembali ke tren yang cukup positif.

Pemerintahan Presiden Barack Obama memang telah berhasil mendongkrak mesin pekerjaan. Namun hal itu hanya dinilai mengesankan dari sisi politis saja. Padahal menurut beberapa pengamat, pemulihan akan lebih jika pemerintah menempatkan setidaknya banyak perhatian pada sektor publik.

“Yang benar-benar menjadi masalah adalah penurunan pengeluaran investasi publik relatif terhadap kebutuhan kita,” jelas pihak The Economic Policy Institute. “Ini jelas dapat mengurangi pertumbuhan ekonomi masa depan dan berkontribusi untuk menimbulkan ketimpangan.” [ap]

Pos terkait