Masuk Pasar Cloud Indonesia, Amazon Web Services Buka Region Jakarta

  • Whatsapp
Ilustrasi: Amazon Web Services (sumber: techwireasia.com)
Ilustrasi: Amazon Web Services (sumber: techwireasia.com)

JAKARTA – Amazon Web Services (AWS), cabang cloud dari group e-commerce Amazon, mengatakan bahwa pihaknya menginvestasikan setidaknya 5 miliar dolar AS untuk meluncurkan infrastruktur region pertama mereka di Indonesia, sekaligus mengklaim membuka lapangan kerja baru dan berkontribusi pada produk domestik bruto (PDB) Indonesia. Grup tersebut juga berencana untuk membangun lebih banyak pusat data setelah peluncuran di wilayah Jakarta.

Seperti diwartakan Nikkei Asia, itu berarti pelanggan AWS di Indonesia, termasuk unicorn teknologi lokal, perusahaan rintisan, perusahaan, dan lembaga pemerintah, kini dapat menjalankan aplikasi mereka dan melayani pengguna akhir, serta mendorong inovasi dengan memanfaatkan teknologi canggih AWS dari pusat data yang berlokasi di Indonesia, demikian bunyi rilis resmi perusahaan. AWS Asia Pasifik (Jakarta) Region sendiri merupakan wilayah aktif AWS kedua di Asia Tenggara setelah Singapura.

Bacaan Lainnya

Ketertarikan AWS tidak lepas dari fakta bahwa Indonesia memiliki populasi terbesar keempat di dunia, dengan ekonomi digital yang berkembang pesat yang didorong oleh sekumpulan unicorn teknologi, serta lonjakan permintaan untuk layanan digital selama pandemi Covid-19. Indonesia dengan cepat menjadi salah satu medan pertempuran terpanas untuk pusat data dan layanan cloud di Asia, sebuah fenomena yang sebagian didorong oleh persyaratan penyimpanan data lokal pemerintah.

Konsultan properti internasional, Jones Lang LaSalle, dalam laporan Juli 2021 kemarin mengatakan Indonesia adalah penghasil tertinggi kedua untuk bisnis cloud Asia Tenggara, dengan total pendapatan berbasis cloud sebesar 600 juta dolar AS pada tahun lalu, membuntuti Singapura dengan 1,8 miliar dolar AS. Pendapatan Indonesia diperkirakan akan meningkat lebih dari tiga kali lipat pada tahun 2025.

“Permintaan pusat data di Indonesia didorong oleh meningkatnya adopsi bisnis lokal dan internasional atas layanan berbasis cloud, dan didukung oleh kemajuan teknologi,” bunyi laporan Jones Lang LaSalle. “Beberapa perusahaan sedang menuju kerja jarak jauh (sistem remote), yang juga mendorong permintaan komputasi awan.”

Ilustrasi: Amazon Web Services Indonesia (sumber: bisnis.com)
Ilustrasi: Amazon Web Services Indonesia (sumber: bisnis.com)

Mengutip studi dampak ekonominya sendiri, AWS mengatakan bahwa operasi dan rencana pengeluaran wilayah baru akan secara langsung dan tidak langsung menciptakan 24.700 pekerjaan lokal di Indonesia, termasuk untuk konstruksi, pemeliharaan fasilitas, teknik, dan telekomunikasi sebagai bagian dari rantai pasokannya. AWS mengklaim menambah lebih dari 10,9 miliar dolar AS ke PDB Indonesia selama 15 tahun ke depan.

AWS, pemimpin pasar dalam layanan komputasi awan, mendaftar di antara kliennya di Indonesia, Halodoc, sebuah startup teknologi kesehatan yang mengalami lonjakan lalu lintas secara signifikan selama pandemi, dan konglomerat media dan properti Indonesia, MNC Group, yang terjun ke perbankan digital pada tahun ini. Klien lokal lainnya termasuk grup e-commerce Tokopedia, situs perjalanan unicorn Traveloka, perusahaan pengiriman SiCepat, dan PT Pos Indonesia.

Namun, AWS bukanlah satu-satunya penyedia di Indonesia. Alibaba Cloud, cabang cloud dari grup asal China, Alibaba, sudah meluncurkan pusat data ketiganya di Tanah Air pada bulan Juni kemarin setelah memulai dua pusat data pertamanya pada tahun 2018 dan 2019 lalu. Sementara itu, Tencent Holdings, konglomerat internet China lainnya, meluncurkan pusat data lokal pertamanya pada bulan April kemarin dan telah mengumumkan rencana untuk membangun yang kedua dalam waktu dekat.

Grup teknologi asal AS, Microsoft, tidak mau ketinggalan dan sempat mengulangi rencana mereka untuk mendirikan pusat data di negara ini pada Februari lalu. Sementara itu, Google Cloud pada tahun lalu sudah meluncurkan layanan cloud lokal untuk klien Indonesia, yang bermitra dengan operator pusat data lokal setelah sebelumnya menggunakan pusat di luar negeri.

Tidak hanya perusahaan global, booming bisnis cloud di Indonesia juga telah menarik pemain lokal, termasuk Data Center Indonesia dan perusahaan telekomunikasi terbesar di negara itu, PT Telkom Indonesia milik pemerintah. Pemain asing seperti Nippon Telegraph & Telephone asal Jepang, Keppel DC dari Singapura, dan Princeton Digital Group juga ikut serta.

Pos terkait