Mengapa Aksi Kriminal Turis Rusia Meluas di Bali dan Lolos Begitu Saja?

  • Whatsapp
Kriminal Turis Rusia - www.scmp.com
Sergei Kosenko, influencer asal Rusia yang akhirnya dideportasi dari Bali- www.scmp.com

DENPASAR – Perbatasan Indonesia sebenarnya sempat ditutup sejak 1 April 2020 karena wabah Covid-19. Namun, ratusan ribu turis asing, kebanyakan dari Rusia, berhasil menemukan tempat berlindung di Canggu, Bali, selama pandemi. Kabarnya mereka membayar oknum imigrasi untuk bisa lolos dengan visa sosial budaya. Seiring dengan itu, aksi kriminal terkait orang Rusia semakin sering dilaporkan, mulai dari perdagangan narkoba, hingga penipuan dan perdagangan seks.

Seperti diwartakan South China Morning Post, tidak sulit untuk memahami mengapa begitu banyak anak muda Rusia, terutama mereka yang bekerja secara online atau di industri kreatif, ingin keluar dari nerinya. Ambil contoh penggunaan dan penyalahgunaan aplikasi pelacakan Covid-19 oleh pemerintah Rusia. Ketika seseorang dites positif di Moskow, mereka harus mengunduh aplikasi yang dapat memantau posisi mereka. Jika aplikasi mendeteksi posisi lebih dari 50 meter dari rumah, mereka akan didenda.

Bacaan Lainnya

Narasi pemerintah Rusia mengatakan bahwa negara tersebut telah menangani pandemi ini lebih baik daripada kebanyakan negara dan sedang menuju pemulihan. Kenyataannya, Rusia memiliki salah satu tingkat kematian Covid-19 tertinggi di dunia. Angka resmi yang diterbitkan oleh badan statistiknya, Rosstat, menunjukkan bahwa kematian di negara itu telah mencapai 660 ribu jiwa sejak awal pandemi. Indonesia, sebagai perbandingan, mencatat lebih dari 143.000 kematian, dengan 3 ribu di antaranya terjadi di Bali.

Pada bulan Agustus lalu, Bali seharusnya berada di bawah pembatasan terberat sejak awal pandemi. Namun, restoran, pusat kebugaran, pasar, dan bahkan beberapa bar tetap buka. Vila-vila mewah juga masih tersedia untuk pasangan atau kelompok yang tinggal selama berbulan-bulan, atau malah bertahun-tahun. Dengan sedikit jaminan sosial dan lebih dari 100 ribu pengangguran, rubel dan euro yang dihabiskan di pulau itu selama 18 bulan terakhir mendefinisikan bahwa ribuan anak Bali sebenarnya tidak tidur dalam keadaan lapar.

“Ada seorang pria Rusia di wisma saya yang memesan pizza setiap malam untuk makan malam,” kata seorang wanita Indonesia yang tinggal di wisma murah di Canggu, dengan setiap kamar selain miliknya ditempati oleh orang Rusia atau Ukraina. “Dia tahu putri saya suka pizza dan saya tidak mampu membelinya, jadi dia selalu memberikannya sepotong.”

Namun, anekdot tentang kehangatan dan keramahan orang Rusia adalah laporan minoritas di Bali, karena mereka semakin melanggar hukum. Dari 157 orang asing yang dideportasi pada tahun lalu, lebih dari setengahnya memiliki kewarganegaraan Rusia, termasuk seorang wanita yang meninggalkan hotelnya dan ketahuan berjalan-jalan di luar ruangan setelah dinyatakan positif Covid-19.

Influencer Rusia, Sergey Kosenko, menjadi orang yang paling dibenci di Bali pada 2020, setelah mengendarai sepeda motor dari dermaga ke laut, membonceng model Rusia berbikini di belakangnya, untuk tujuan konten di media sosial. Sempat meminta maaf karena tidak peka terhadap kesulitan yang dihadapi penduduk setempat, Kosenko malah mengadakan pesta besar di vilanya. Baru setelah itu dia dideportasi.

Leia Se, Youtuber
Leia Se, Youtuber Rusia yang akhirnya dideportasi karena pornografi

Pada bulan Mei tahun ini, model Rusia, Leia Se, melukis, alih-alih memakai, masker di wajahnya untuk mengelabui penjaga keamanan agar mengizinkannya masuk ke supermarket untuk tujuan konten YouTube. Sebulan kemudian, polisi meluncurkan penyelidikan setelah klip video porno yang direkam di sebuah vila di Canggu dengan musik Rusia yang diputar di latar belakang menjadi viral di media sosial.

Juli 2021, kejahatan terkait Rusia di Bali menjadi meresahkan ketika polisi menangkap seorang warga negara Rusia yang diidentifikasi hanya dengan inisialnya, EB. Ia diduga mengunjungi bisnis penyewaan sepeda motor seorang pria Ukraina di Canggu. Ia menuduh bisnis itu beroperasi secara ilegal dan memaksanya untuk menyerahkan uang tunai dan sepeda motor sambil mengaku sebagai Interpol. Untuk memastikan agar orang Ukraina itu diam, ia juga mengancam akan melaporkannya ke polisi karena menjadi pengedar narkoba.

Kepala Satuan Reserse Kriminal Umum Polda Bali, Djuhandhani Rahardjo, saat itu mengatakan bahwa pihaknya cuma menangkap satu pelaku, tetapi yakin dia adalah bagian dari kelompok. Menurutnya, masih ada korban lainnya yang mungkin takut melapor ke polisi. Senada, profesor peradilan pidana internasional di City University of New York, Yuliya Zabyelina, berujar karena Bali tidak diatur dengan baik, ada celah keamanan. “Turis tidak percaya pada polisi dan pemerasan seperti ini mulai terjadi,” katanya.

Tingginya insiden perilaku buruk di antara orang Rusia dan kejahatan terkait mereka telah membuat penduduk dan turis menjadi kesal. Pada tahun 2019, situs berita Kumparan.com mengutip Ketua Dewan Pariwisata Bali, Ida Bagus Agung Partha Adnyana, yang mengatakan bahwa orang Rusia suka membuat masalah. “Itulah perilaku mereka. Mungkin kita perlu kontrol yang lebih ketat atas orang-orang ini?” ujarnya.

Beberapa politisi di Bali telah menyarankan untuk melarang orang Rusia mendapatkan visa pada saat kedatangan ketika pariwisata internasional kembali dibuka. Namun, menurut Zabyelina, ini tidak akan mencegah transplantasi kriminal dari Rusia. Pasalnya, selalu ada cara untuk mendapatkan visa, dengan dokumen palsu atau masuk ke negara itu secara ilegal.

“Saya akan merekomendasikan hotline 24/7 dengan pekerja berbahasa Rusia sehingga ada cara yang jelas bagi wisatawan dan pemilik bisnis berbahasa Rusia untuk berkomunikasi dengan pihak berwenang guna melaporkan kejahatan seperti pemerasan,” katanya. “Mereka perlu tahu bahwa polisi akan menanggapi informasi mereka dengan serius dan menanganinya dengan hati-hati.”

Ia melanjutkan, akan sangat membantu jika komunitas berbahasa Rusia di Bali meningkatkan kesadaran di kalangan wisatawan Rusia tentang beberapa kemungkinan risiko yang mungkin menunggu mereka. Itulah yang hilang sekarang dan ini adalah bagaimana Bali dapat memulai tanggapannya terhadap meningkatnya ancaman kejahatan terorganisasi migran Rusia di Indonesia.

Sayangnya, Polda Bali, Polisi Pariwisata, Dinas Pariwisata Bali, Kementerian Hukum dan Hak Asasi Manusia, Dirjen Imigrasi, Dirjen Pemasyarakatan, Lapas Kerobokan, dan setiap instansi pemerintah yang dihubungi menolak untuk mengomentari kejahatan terkait Rusia. Semua ini adalah produk dari berbagai faktor yang saling terkait, protokol kesehatan Covid-19, fakta bahwa orang Indonesia lebih suka menghindari konflik, dan Bali sebagai sarang korupsi. Indeks Persepsi Korupsi Global Transparency International menempatkan Indonesia di peringkat 102 dalam 180 negara paling korup.

Zabyelina mengatakan, dia tidak berpikir kejahatan terorganisasi Rusia merupakan ‘ancaman mendesak’ di Bali. Meski demikian, dia memperingatkan bahwa studi tentang jejak rekreasi Rusia, dengan Goa dan Pattaya sebagai contoh nyata, menunjukkan satu dekade dari sekarang segalanya bisa sangat berbeda.

Zabyelina percaya, orang Rusia yang menyamar sebagai Interpol di Bali kemungkinan adalah penjahat kecil yang mencoba mencari nafkah untuk menghindari pulang ke rumah dan malah menghabiskan hari-hari mereka bersantai di pantai. Dia juga percaya pandemi mungkin ada hubungannya dengan peningkatan kriminal, karena banyak orang asing terjebak di Bali tanpa uang untuk pulang, atau tidak ingin pergi karena lockdown di negara asal mereka.

“Menjebak turis dengan narkoba di negara seperti Indonesia, dengan hukuman berat untuk pelanggaran termasuk hukuman mati, adalah penipuan pemerasan umum lainnya,” kata Zabyelina. “Begitulah cara organisasi kriminal memulai di lokasi asing karena tidak memerlukan modal atau keterampilan tertentu. Jika tidak ditangani sejak awal, kelompok tersebut mungkin dapat menetap di Bali lebih permanen dan bahkan beralih ke tindakan kriminal yang lebih menguntungkan seperti perdagangan narkoba, perdagangan manusia, dan perdagangan satwa liar.”

Ia melanjutkan, tidak ada bukti yang menunjukkan mana yang lebih dulu, apakah pariwisata Rusia atau kejahatan terorganisasi. Mereka kemungkinan berjalan beriringan di tempat-tempat eksotis, di mana orang Rusia suka pergi berlibur untuk menghindari iklim yang dingin. “Yang Anda butuhkan agar kejahatan semacam ini berkembang adalah pasukan polisi yang tidak responsif terhadap turis dan tidak mampu atau tidak mau memberi mereka keamanan,” pungkas Zabyelina.

Pos terkait